Syukur atas Pertolongan Allah kepada Nabi Musa
Khutbah Jumat 11 Juni 2027 ini mengangkat tema hikmah Asyura: syukur atas pertolongan Allah kepada Nabi Musa, disampaikan menjelang 10 Muharram 1449 H. Naskah berisi empat hikmah: kemuliaan bulan Muharram, kisah pertolongan Allah kepada Nabi Musa, puasa Asyura sebagai wujud syukur, serta menjadikan syukur sebagai jalan hidup. Dalilnya bersumber dari Al-Qur'an dan hadis sahih.
Bapak-bapak khatib dapat membaca naskah lengkapnya langsung di halaman ini, melihat preview file PDF-nya, lalu mengunduhnya secara gratis untuk dicetak. Naskah pekan lalu tentang menyambut tahun baru hijriah 1449 juga masih dapat Bapak baca dan unduh.
Informasi File Khutbah
| Judul | Hikmah Asyura: Syukur atas Pertolongan Allah kepada Nabi Musa |
| Untuk Jumat | 11 Juni 2027 |
| Momentum | Menjelang 10 Muharram 1449 H |
| Isi | Khutbah pertama (Arab & Indonesia) dan khutbah kedua (full bahasa Arab) |
| Format | PDF, ukuran A4, 6 halaman, siap cetak |
| Perkiraan durasi | ±13–15 menit (khutbah pertama, tempo sedang) |
Naskah Khutbah Jumat 11 Juni 2027: Hikmah Asyura
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم: ٧)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah Swt. Ayat yang baru saja kita dengar adalah janji Allah: jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.
Kita kini berada di bulan Muharram, dan beberapa hari lagi kita akan bertemu dengan hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Hari ini menyimpan kisah agung tentang pertolongan Allah kepada Nabi Musa 'alaihissalam dan pelajaran besar tentang syukur. Marilah kita renungkan empat hikmah berikut.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pertama, kemuliaan bulan Muharram
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah (QS. At-Taubah: 36). Rasulullah ﷺ menyandarkan bulan ini kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan. Beliau bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim)
Di bulan haram, kebaikan dilipatgandakan nilainya, dan kemaksiatan pun lebih berat dosanya. Maka Allah berpesan: "Janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu." (QS. At-Taubah: 36)
Kedua, kisah pertolongan Allah kepada Nabi Musa
Ketika Nabi Musa dan kaumnya dikejar Fir'aun dan bala tentaranya hingga ke tepi laut, para pengikutnya berkata: "Kita benar-benar akan tersusul." Namun Nabi Musa menjawab dengan penuh keyakinan:
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
"Dia (Musa) menjawab: Sekali-kali tidak akan (tersusul). Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara: 62)
Allah pun memerintahkan Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut, lalu laut terbelah dan mereka selamat, sedangkan Fir'aun tenggelam. Peristiwa ini terjadi pada hari Asyura. Pelajarannya: sekuat apa pun kezaliman, ia akan runtuh; dan sesempit apa pun keadaan, pertolongan Allah sangat dekat bagi orang yang beriman dan bertawakal.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, puasa Asyura sebagai wujud syukur
Ketika tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ mendapati sebagian penduduknya berpuasa pada hari Asyura sebagai rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa. Beliau bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Maka beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa (HR. Bukhari dan Muslim). Tentang keutamaannya, beliau bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus (dosa) setahun yang lalu." (HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim). Karena itu, dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Inilah cara Rasulullah ﷺ mengajarkan syukur: mengenang pertolongan Allah dengan ibadah.
Keempat, menjadikan syukur sebagai jalan hidup
Syukur tidak berhenti pada satu hari. Para ulama menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga hal: mengakui nikmat dengan hati, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat untuk ketaatan dengan anggota badan. Allah berfirman:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba': 13)
Mata yang sehat kita syukuri dengan melihat yang baik, harta kita syukuri dengan berbagi kepada yang membutuhkan, ilmu kita syukuri dengan mengajarkannya, dan waktu luang kita syukuri dengan mengisinya dengan kebaikan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita ambil hikmah Asyura: memuliakan bulan Muharram, meyakini dekatnya pertolongan Allah sebagaimana Nabi Musa, menghidupkan puasa Asyura sebagai wujud syukur, dan menjadikan syukur sebagai jalan hidup. Sungguh, nikmat Allah tak akan sanggup kita hitung, sebagaimana firman-Nya:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 18)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّى مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ، وَجَعَلَ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى، وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ، وَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Preview File PDF Khutbah
Lihat tampilan PDF siap cetak sebelum mengunduh.
Keunggulan Naskah Khutbah Ini
Menyambut Tahun Baru Hijriah 1449: Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik KHUTBAH JUMAT BERIKUTNYA • 18 JUNI 2027
Menjaga Bumi, Amanah dari Allah▶
Pertanyaan Seputar Khutbah Jumat 11 Juni 2027
Apa tema khutbah Jumat 11 Juni 2027 ini?
Temanya adalah hikmah Asyura, dengan empat pelajaran: kemuliaan Muharram, kisah pertolongan Allah kepada Nabi Musa, puasa Asyura sebagai wujud syukur, dan syukur sebagai jalan hidup.
Apakah khutbah ini cocok untuk semua kalangan?
Ya. Naskah hanya membahas keutamaan Muharram dan puasa Tasu'a–Asyura yang disepakati berdasarkan hadis sahih, dengan menyebut tanggal hijriah tanpa tanggal Masehi.
Berapa lama durasi khutbah ini?
Khutbah pertama sekitar 13–15 menit jika dibaca dengan tempo sedang, ditambah khutbah kedua yang singkat dalam bahasa Arab.
Bagaimana cara download file PDF-nya?
Klik tombol Download PDF di bagian atas artikel. File akan terunduh langsung dari Google Drive tanpa perlu login.
Bolehkah naskah ini diubah atau disesuaikan?
Boleh. Khatib dipersilakan menyesuaikan contoh dan penekanan materi dengan kondisi jamaah masing-masing.
Siap dibawakan Jumat ini? Unduh naskahnya sekarang.
⬇ Download Khutbah Jumat 11 Juni 2027 (PDF)Semoga naskah khutbah Jumat 11 Juni 2027 ini bermanfaat bagi para khatib dan menjadi jalan kebaikan bagi jamaah. Jika dirasa bermanfaat, silakan bagikan artikel ini kepada rekan-rekan khatib dan pengurus masjid lainnya.
