Mendidik dengan Cinta: Internalisasi Nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk Guru Madrasah
Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar RUMI GTK Madrasah bertajuk "Bagaimana Menjadi Guru yang Mengajar dengan Cinta" dalam rangkaian Semarak Ramadan 1447 H. Forum ini mengupas sisi terdalam dari Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang selama ini banyak dibahas dari sisi teknis administratif, kali ini dari sisi hati dan niat guru itu sendiri. Mewakili Direktur GTK Madrasah, Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Bina GTK MI dan MTs, Dr. H. Imam Bukhari, M.Pd., menjelaskan bahwa tema "Mendidik dengan Cinta" selaras dengan program prioritas Kementerian Agama, yaitu Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) [28:48].
5 Pilar Pancinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta
Dr. Imam Bukhari menegaskan bahwa KBC pada hakikatnya adalah pendidikan nilai (value education) yang diinternalisasikan ke dalam Kurikulum Nasional [29:48, 30:46]. Pendekatan ini dilandasi oleh lima pilar utama yang dikenal sebagai Pancinta [30:15]:
- Cinta Allah dan Rasul-Nya: Menjadikan tauhid dan kasih sayang Ilahi sebagai fondasi utama [30:18].
- Cinta Diri dan Sesama: Menghormati martabat manusia serta menjaga diri dari perilaku maksiat atau merusak [30:22, 51:31].
- Cinta Ilmu: Menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan dahaga belajar sepanjang hayat [30:24, 50:23].
- Cinta Alam dan Lingkungan: Memelihara kelestarian ekosistem dan kebersihan satuan pendidikan [30:26, 51:00].
- Cinta Tanah Air (NKRI): Menanamkan jiwa nasionalisme dan komitmen menjaga keutuhan bangsa [30:28, 53:06].
"Sifat kasih sayang Allah (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) mendahului murka-Nya. Mendidik anak dengan cinta berarti mengenalkan Allah sebagai Sang Kekasih yang Maha Pengasih, bukan sekadar Sosok yang menakutkan." — Dr. H. Imam Bukhari, M.Pd. [34:03, 35:28]
Dr. Imam juga mengingatkan para pendidik untuk tidak memandang murid dengan kacamata orang dewasa (annadhr bi'ainir rahmah — melihat dengan pandangan kasih sayang) [43:56, 44:18]. Tidak ada istilah "murid nakal", melainkan anak yang butuh dirangkul, didengar, dan diterima keberadaannya tanpa syarat [44:06, 45:45].
Murni karena Allah: Transformasi Mendidik Berbasis Mahabbah Ilahiyah
Narasumber Utama, Dr. K.H. Ahmad Sodiq, M.A. (Kepala Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Pesantren) [20:38, 01:02:45], membedah hakikat cinta dalam pembelajaran merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dan Rabiah Al-Adawiyah [01:04:15, 01:11:05]. Kiai Ahmad Sodiq membedakan dua jenis cinta dalam mendidik [01:12:42]:
- Cinta Nafsu (Hubbul Hawa): Mendidik berlandaskan pamrih — seperti sekadar mengejar insentif, pujian, status, atau formalitas gugur kewajiban [01:12:47, 01:18:47]. Kualitas pengajaran tipe ini cenderung fluktuatif dan bergantung pada fasilitas atau kondisi murid [01:17:58, 01:19:38].
- Cinta Murni Ilahi (Hubbul Ilahi): Memandang murid sebagai titipan (amanah) Allah SWT [01:13:47, 01:15:20, 01:27:12]. Guru tipe ini mengajar secara tulus (lillahi ta'ala), istikamah, penuh kesabaran, serta tidak terpengaruh oleh kesulitan fisik maupun fasilitas [01:19:54, 01:23:29, 01:31:58].
Kiat Praktis Menjadi "Guru Hakiki" yang Mengajar dengan Cinta
Dalam paparannya, Dr. K.H. Ahmad Sodiq membagikan beberapa tips konkret bagi para guru madrasah untuk menghadirkan ikhlas dan cinta di kelas [01:20:21]:
- Memperbaiki dan Meluruskan Niat (Shidqun Niyyah): Membesarkan niat ibadah lillahi ta'ala saat melangkah ke dalam kelas [01:20:31, 01:21:07].
- Fokus pada Potensi Masa Depan Murid: Tidak menandai atau menghakimi keburukan murid, melainkan fokus melihat benih kebaikan dan masa depannya [01:24:20, 01:26:35].
- Mendidik dengan Teladan (Haliah): Menjadi "orang tua ilmu" bagi murid yang mengajar melalui perbuatan dan kepribadian terpuji (haliah), bukan sekadar kata-kata [01:34:14, 01:37:38].
- Mendoakan Murid secara Istikamah: Guru sejati tidak hanya mengajar di siang hari, tetapi mendoakan dan mengetuk pintu langit untuk keberhasilan serta kebaikan batin murid-muridnya [01:35:10, 01:36:30].
- Menyelaraskan Ikhtiar dan Doa: Tetap melakukan ikhtiar pedagogis terbaik — seperti menyiapkan metode, materi, dan media pengajaran secara kreatif serta inovatif — sebagai bentuk persembahan ikhlas kepada Allah SWT [01:33:00, 02:14:12, 02:15:28].
Poin kelima ini penting digarisbawahi: cinta dalam KBC bukan berarti guru lepas dari ikhtiar teknis menyiapkan perangkat pembelajaran. Modul ajar yang matang tetap dibutuhkan sebagai wujud ikhtiar, misalnya dengan memanfaatkan Modul Ajar KBC untuk semua jenjang (RA, MI, MTs, MA) yang sudah tersedia dalam format Word siap edit, lalu dijiwai dengan niat dan cinta seperti yang dipaparkan Kiai Ahmad Sodiq di atas.
"Seorang guru adalah karyawan Allah. Saat kita mengajar tulus karena Allah, perlakuan manusia tidak akan pernah mengurangi kualitas kebaikan pengabdian kita." — Dr. K.H. Ahmad Sodiq, M.A. [01:54:37, 01:59:13]
Link Download Buku Saku Pendampingan Implementasi KBC
Untuk memahami lebih lanjut bagaimana lima nilai Pancinta ini diterjemahkan secara teknis di satuan pendidikan, unduh panduan resminya berikut:
📥 Download Buku Saku Pendampingan Implementasi KBC
Informasi Sumber Video:
Judul Acara: RUMI GTK MADRASAH: Bagaimana Menjadi Guru yang Mengajar dengan Cinta (Semarak Ramadan 1447 H)
Penyelenggara: Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI
Kanal YouTube: GTK Madrasah Channel
Tautan Video: https://www.youtube.com/watch?v=toZATF6Ur8w

Comments
Post a Comment